Rabu, 16 September 2009

KEHIDUPAN : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

[Dari Lentera Hati - M. Quraish Shihab]

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Uraian Al-Qur'an tentang laba-laba; sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [ Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [ An Nahl;
16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang
tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap hidup kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk
ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa".
Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'.
Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan :
"Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!- [lm-18]
daarut-tauhid@yahoogroups.com

Minggu, 13 September 2009

Manisnya Madu Bukan Manis Biasa

diambil dari : daarut-tauhid@yahoogroups.com (l.meilany)

"........... .Keluarlah dari perutnya minuman bermacam-macam warnanya dan padanya
obat bagi manusia..... ......... " [An Nahl;16:69]

Selama puasa kita tetap membutuhkan tenaga yang cukup dalam melakukan aktivitas
keseharian. Namun pada bulan puasa tubuh kita lebih banyak lagi membutuhkan gizi
sebagai tenaga. Hal ini disebabkan selama 12 jam lebih tubuh tidak menerima asupan
makanan dan minuman, sedangkan organ-organ terus bekerja. Kekurangan tenaga
menyebabkan kita merasa cepat lelah.

Madu selain baik untuk kesehatan tubuh juga dapat memberikan tambahan tenaga
sehingga membuat kita tahan lapar.
Menurut kepustakaan, 1000 gram madu bernilai 3.280 kalori. Nilainya sama dengan 50 butir
telur atau 5,575 liter susu atau 1,680 kg daging. Sebenarnya khasiat madu amat berkaitan
dengan kandungan gulanya yang tinggi selain itu juga unsur lainnya seperti tepungsari
ditambah berbagai enzim pencernaan. Lalu terdapat pula vitamin-vitaminA, B1, B2, antibiotika
dan lainnya.

Meski sama manisnya, namun perlakuan tubuh terhadap madu sangatlah berbeda dengan gula.
Madu dapat diproses langsung menjadi glukogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dulu
oleh enzim pencernaan diusus.
Jadi tubuh kita lebih dulu merasakan manfaat madu dibandingkan gula.

Walaupun demikian kita harus tetap berhati-hati dengan madu.
Bisa jadi madu menjadi tidak baik-tidak halal.
Sebab, bila madu dipanen bukan pada waktu yang tepat atau setelah diperas dari sarang madu
tidak diperlakukan dengan baik untuk mengurangi kadar airnya, maka madu justru akan
ditumbuhi khamir (ragi, yeast)
Khamir selanjutnya akan mengubah gula menjadi alkohol, gas karbon dioksida (CO2) serta
senyawa-senyawa lainnya.
Itulah sebabnya pada madu yang kurang baik, ditumbuhi khamir maka akan tercium bau alkohol.
Dan ketika dibuka botolnya berbunyi "blub" sebagai tanda adanya gas karbondioksida.

Madu yang baik diantaranya yang memiliki kadar air cukup rendah, dibawah 21%.
Dengan demikian maka tidak akan terjadi fermentasi yang menghasilkan alkohol dan gas.
Celakanya, di pasaran kadang-kadang dipromosikan bahwa madu yang baik adalah jika
botolnya dibuka berbunyi "blub".
Ini menjerumuskan, karena artinya sudah terjadi fermentasi - pembentukan alkohol -[lm-15]

(Sumber: Sebagian besar dari 'Tanya Jawab Soal Halal' oleh DR. Anton Apriyantono)
------------ --------- --------- -------

Antara Kebutuhan dan Keinginan

diambil dari daarut-tauhid@yahoogroups.com (l.meilany)

Saya memiliki sebuah pembatas halaman buku (bookmark) yang bertuliskan :
'Kebahagiaan adalah memiliki apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan'.
Kebutuhan adalah suatu 'standar' untuk hidup yang mungkin sangat individual sifatnya.

Bagi seseorang bisa makan setiap hari dengan lauk sederhana adalah kebutuhan utama.
Tapi bagi orang lain makan dengan lauk yang memenuhi gizi adalah suatu kebutuhan.
Jika kemudian kebutuhan itu telah terpenuhi dan ia mendambakan lebih dari yang dibutuhkan itu merupakan keinginan.

Keinginan merupakan pintu masuk bagi hawa nafsu yang menimbulkan ketagihan, ketamakan.
Keinginan yang tak terbatas mendorong perilaku yang senantiasa gelisah dalam hidupnya.
Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, kala menginginkan- mengidamkan sesuatu.
Tapi setelah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah didapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya, ketika ada lagi keinginan yang lain.

Kegembiraan, gairah yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan.
Begitu selalu seterusnya, selalu banyak godaan-godaan dan kemudian datang keinginan baru.

Tidak pernah merasa puas. Senantiasa timbul keinginan-keinginan lain yang sulit dibendung.
Padahal keinginan itu bukan merupakan kebutuhan. Sehingga akhirnya diupayakan segala cara untuk
memperoleh keinginan itu.
Keinginan pada puncaknya akan menyengsarakan karena akan menjadikan pelakunya tidak pandai
bersyukur. Padahal jika kita pandai bersyukur Allah akan menambah nikmatNya [QS Ibraahiim; 14:7]

Ustad Yusuf Mansur dengan indahnya mengatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan lebih baik
membatasi keinginan daripada menurutinya- memanjakannya.
Bahwa keinginan itu adalah bentuk hawa nafsu yang seharusnya jangan diikuti; karena justru
menyesatkan dari jalan Allah [QS Shaad; 38:26] - [lm-16]
------------ --------- --------- --------- ---------

Dia Tahu Air Matamu

Penulis : Achmad Fachrie

Allah Mahahidup. Ia senantiasa mengurusi hamba-hambaNya. Tidak satu pun makhluk yang terlewat dari perhatianNya. Setiap makhluk di jagat raya ini mendapatkan bagian yang terukur dariNya.

Karena sejatinya, apa yang kita peroleh senantiasa berkesesuaian dengan keadaan kita. Allah tidak pernah sekali-kali berkehendak mendzalimi hamba-hambaNya dalam hal pemberian. Atas rasa sakit, atas rasa kehilangan atau mungkin atas rasa memiliki, atas rasa mencintai. Di setiap yang terasai, di baliknya selalu ada hikmah yang mungkin sulit untuk dimengerti, dan mungkin bukan untuk saat ini untuk dimengerti.


Terkadang rasa sakit terlebih dahulu menghampiri, karena ketika nikmat kebaikan datang, agar kita menyadari dan menjaga betapa besar nikmat kebaikan tersebut kita miliki. Dan ketika kita berjalan di jalan yang keliru, agar kita mensyukuri ketika berhasil menemui kebaikan yang sesungguhnya yang harus kita jaga dan tak kita lepas.

Melewati setiap kesulitan bukanlah hal yang mudah. Melalui setiap kesedihan juga bukan suatu hal yang mudah. Karena kadang membuat kita terpuruk dalam kesedihan yang tak dimengerti. Tapi Allah tak pernah membiarkan hambaNya terus dalam satu keadaan. Dia memperhatikan setiap langkahmu, Dia mengetahui setiap keluh kesahmu. Bahkan Dia tahu airmatamu. Allah juga tahu sekeras apa engkau berusaha dan melalui semuanya.

Setiap peristiwa yang dilihat dan dirasa, setiap suara yang didengar, merupakan bagian hidup yang telah diciptakan untuk kita sebagai sebuah kesatuan. Suara burung yang berkicau, langit yang berwarna kebiruan, cahaya matahari yang senantiasa menyinari, atau malam yang dihiasi bintang-bintang merupakan satu kesatuan yang tak terlepas dariNya untuk kita. Tak ada bunga yang mekar dan layu dengan kebetulan. Tak ada rasa sakit dan nikmat kebaikan yang datang secara kebetulan. Tak ada manusia yang lahir dan mati secara kebetulan. Semua bagian dari garis yang sudah tertulis sejak saat pertama kita diciptakan.

Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha hambaNya yang berusaha dan istiqamah meraih ridhaNya. Allah juga tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya yang terus berusaha mengerti akan perjalanan hidup yang tergaris untuknya. Karena Allah akan berada dan memberi sesuai dengan prasangka hambaNya.

Dia tahu airmatamu. Walau berat, walau sulit, karena semua sudah ada dalam kehendakNya. Kita hanya perlu menumbuhkan kesadaran untuk menerima bahwa itu dariNya untuk kebaikan kita.

source : kotasantri

Wallahu a'lam bishshawab.